BANDARLAMPUNG — Sejumlah program strategis disiapkan untuk mengejar target produktivitas padi di Lampung. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menargetkan kenaikan hasil panen dari rata-rata lima ton menjadi delapan ton per hektare. Angka ini dinilai masih di bawah produktivitas beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Tiongkok.
Pemprov Lampung mendorong peningkatan produktivitas melalui pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Selain itu, pemerintah juga menyediakan dryer jagung serta memperkuat distribusi pupuk ke petani.
Modernisasi alat dan mesin pertanian menjadi fokus berikutnya. Hilirisasi produk pertanian juga digenjot agar nilai tambah komoditas lokal meningkat. "Kita tidak boleh berhenti pada produktivitas hari ini. Kalau produktivitas padi bisa naik dari lima ton menjadi delapan ton per hektare, maka pendapatan petani juga akan meningkat signifikan," ujar Rahmat dalam keterangannya, Rabu.
Gubernur mengingatkan bahwa dunia berpotensi menghadapi ancaman krisis pangan dalam beberapa tahun ke depan. Daerah produsen pangan, kata dia, harus memperkuat kapasitas produksi dan menjaga stabilitas pasokan.
"Daerah yang memiliki pangan akan menjadi daerah yang kuat dan stabil. Oleh karena itu, Lampung harus siap menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional," ucap dia.
Lampung memiliki luas wilayah sekitar 3,3 juta hektare dengan lebih dari 1,2 juta hektare lahan pertanian produktif. Posisi ini menjadikan provinsi ujung selatan Sumatera itu sebagai penopang utama produksi pangan di Sumatera dan sebagian Pulau Jawa.
Rahmat menjelaskan tiga komoditas utama yang menjadi kekuatan Lampung selama puluhan tahun adalah padi, jagung, dan singkong. Sektor peternakan juga kuat melalui produksi ayam, telur, sapi, dan kambing yang menopang kebutuhan pangan nasional.
"Ini yang harus terus ditingkatkan sehingga produksi komoditas pangan di Lampung bisa terus bertambah dan terjaga," ucapnya.
Gubernur meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota, instansi vertikal, BUMN, serta pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi. Integrasi program pembangunan diarahkan pada satu tujuan: memperkuat produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
"Seluruh kebijakan yang kita buat harus berdampak langsung kepada masyarakat. Ketika pertanian tumbuh, maka ekonomi daerah akan tumbuh, kemiskinan berkurang, dan kualitas sumber daya manusia akan meningkat," tambahnya.
Rahmat menegaskan bahwa fondasi utama ekonomi Lampung adalah pertanian. Karena itu, pembangunan sektor pertanian harus menjadi prioritas bersama. Ketahanan pangan nasional, kata dia, sangat bergantung pada kemampuan daerah-daerah produsen seperti Lampung.