378 Hotspot Terdeteksi di Lampung dalam 24 Jam, 7 Titik Panas Mengapit Bandara Radin Inten II

Penulis: Rizal Fikri  •  Rabu, 16 September 2026 | 22:52:31 WIB
Satelit mendeteksi 378 titik panas di Lampung dalam 24 jam, mayoritas berkategori kepercayaan sedang.

LAMPUNG — Data yang dirilis Rabu (16/9/2026) pagi itu berasal dari pantauan satelit AQUA, NOAA20, dan SNPP. Dari 378 titik panas, mayoritas masuk kategori kepercayaan sedang, yakni 339 titik medium, 19 titik high, dan 20 titik low.

Kabupaten Mesuji mencatat jumlah terbanyak dengan 114 titik. Lampung Tengah menyusul dengan 69 titik, lalu Tulang Bawang 68 titik, serta Lampung Selatan dan Way Kanan yang masing-masing terdeteksi 28 titik.

Wilayah lain yang turut masuk daftar meliputi Tulang Bawang Barat 18 titik, Pesisir Barat 13 titik, Lampung Barat 11 titik, Lampung Timur 10 titik, Lampung Utara dan Tanggamus masing-masing 7 titik, serta Pesawaran 5 titik.

Empat Titik Panas Berada di Bawah 5 Kilometer dari Bandara

BMKG menghitung jarak titik panas ke sejumlah bandara di Lampung memakai metode Haversine. Hasilnya, empat titik berada dalam radius kurang dari 5 kilometer dari Bandara Radin Inten II, dan bertambah menjadi tujuh titik bila radius diperluas ke 10 kilometer.

Titik terdekat berjarak sekitar 2,09 kilometer dari bandara dan berada di Natar, Lampung Selatan. Sisanya tersebar di kawasan Natar serta Tegineneng dan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, dengan jarak 4,59 hingga 6,92 kilometer.

Di Bandara Gatot Soebroto (WIPO) Way Kanan, BMKG menemukan satu titik panas dalam radius 1,70 kilometer, tepatnya di wilayah Way Tuba. Bandara Taufiq Kiemas (WILP) di Pesisir Barat bersih dari deteksi titik panas.

Hotspot Belum Tentu Berarti Kebakaran

Prakirawan BMKG Lampung Ramadhan Nurpambudi mengatakan titik panas yang tertangkap sensor satelit tidak otomatis menandakan ada kebakaran di lokasi tersebut.

"Hotspot ini merupakan indikasi awal adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi oleh sensor satelit. Untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran, tetap diperlukan pengecekan langsung di lapangan," katanya.

Menurut Ramadhan, data itu lebih tepat diposisikan sebagai peringatan dini bagi instansi terkait. Verifikasi di lapangan tetap menjadi langkah wajib sebelum menentukan tindakan antisipasi.

"Informasi hotspot ini dapat menjadi peringatan dini bagi pihak terkait untuk kemudian dilakukan verifikasi di lapangan. Jadi perlu dilihat kondisi aktual di lokasi titik panas yang terdeteksi," ujarnya.

Dasar Antisipasi Karhutla

BMKG menegaskan data hotspot bersifat indikatif karena hanya merekam anomali suhu permukaan, bukan bukti terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Pengecekan lapangan diperlukan untuk memastikan kondisi aktual sekaligus menjadi dasar langkah antisipasi terhadap potensi karhutla di Lampung.

Sejumlah kabupaten dengan titik panas terbanyak, terutama Mesuji, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang, menjadi prioritas verifikasi mengingat jumlah deteksi yang jauh di atas daerah lain.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top