BANDAR LAMPUNG — Film Ageman dipersiapkan tayang perdana pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Sinema edukasi toleransi ini mengangkat kisah perjalanan hidup Ken Setiawan, mantan aktivis radikal yang kini giat mengampanyekan pencegahan intoleransi.
Selain menggalang dukungan dari jajaran pejabat Pemprov Lampung dan akademisi, film ini merangkul tokoh lintas etnis dan agama secara nyata. Salah satu nama yang menonjol adalah Paulus Petrus, tokoh masyarakat Tionghoa asal Lampung yang menjalani debut aktingnya.
Dalam alur cerita, Paulus Petrus memerankan figur dari keluarga Tionghoa taat yang penuh kesejukan. Ia beradu peran dengan dua karakter utama, Aluna sebagai Ratri dan Zaskia sebagai Bianca.
Kedua karakter utama itu dikisahkan sedang dilanda kebingungan serta pencarian jati diri di tengah terpaan sikap intoleransi. Lewat dialog yang mendalam, Paulus Petrus memberikan pencerahan mengenai hakikat hidup beragama di era derasnya arus informasi media sosial yang kerap memicu perpecahan.
"Tujuan beragama adalah memuliakan manusia. Jika kita sudah bisa melihat manusia tanpa membeda-bedakan pakaian (Ageman), di situlah kita baru benar-benar beragama," ungkap Paulus Petrus dalam salah satu adegan kunci film tersebut.
Secara filosofis, kata Ageman bermakna pakaian atau keyakinan. Konsep ini mengajarkan bahwa perbedaan suku dan agama adalah amanah untuk saling melengkapi.
Film Ageman juga berani menyoroti isu-isu krusial seperti perundungan atau bullying serta bibit ekstremisme di masyarakat. Isu-isu itu diangkat dari pengalaman nyata sang produser, Ken Setiawan.
Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan harmoni yang dibawakan para tokoh lintas elemen mampu mengetuk nurani khalayak luas.
"Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan. Harapannya, Indonesia tetap damai tanpa ada celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme," tegas Firsada.
Dukungan dari jajaran Pemprov Lampung dan kalangan akademisi menjadi modal awal film ini menjelang penayangan perdananya. Pesan kerukunan yang diusung Ageman diharapkan menjangkau penonton lebih luas setelah 1 Oktober 2026.