Pencarian

BI Tahan BI-Rate di 5,75 Persen, Rupiah Rp17.855 per Dolar AS

Senin, 28 September 2026 • 09:07:31 WIB
BI Tahan BI-Rate di 5,75 Persen, Rupiah Rp17.855 per Dolar AS
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur September 2026 dalam konferensi pers di Gedung Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

LAMPUNG — Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026, dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Keputusan tersebut sekaligus mempertahankan imbal hasil Deposit Facility di 4,75 persen dan Lending Facility di 6,5 persen.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan keputusan tersebut konsisten dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, menjaga inflasi tetap dalam sasaran, dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers hasil RDG September 2026 di Gedung Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen," kata Destry.

Rupiah Tertekan, Modal Asing Masuk Tipis

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih jadi persoalan utama. Rupiah berada di posisi Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026. Aliran investasi portofolio bersih sepanjang triwulan III 2026 hingga 21 September hanya tercatat sekitar 0,4 miliar dolar AS.

Pemicunya datang dari luar: kenaikan suku bunga Amerika Serikat, imbal hasil surat utang pemerintah AS yang tinggi, penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik, dan lonjakan harga minyak. Eskalasi perang di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak dunia menyentuh 132 dolar AS per barel sebelum kembali turun di bawah 100 dolar AS per barel pada 22 September 2026.

Perekonomian global sendiri masih menghadapi pertumbuhan lemah dan ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi. Kondisi itu membatasi ruang gerak bank sentral negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kredit Investasi Tumbuh 25,11 Persen

Dari sisi domestik, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada di kisaran 4,9-5,7 persen. Konsumsi rumah tangga masih ditopang stimulus fiskal, sementara investasi tumbuh dan ekspor nonmigas menunjukkan perbaikan.

Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Rinciannya:

  • Kredit investasi: 25,11 persen
  • Kredit modal kerja: 11,45 persen
  • Kredit konsumsi: 5,07 persen

Angka inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan dengan inflasi inti 2,92 persen, masih berada dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Jeda Taktis, Bukan Akhir Pengetatan

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai keputusan BI masih sesuai kondisi saat ini, namun bukan berarti pengetatan kebijakan moneter sudah berakhir.

"Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75 persen merupakan langkah yang tepat untuk saat ini, tetapi harus dipahami sebagai jeda taktis, bukan akhir dari pengetatan," ujar Josua.

Menurutnya, belum ada alasan kuat bagi BI untuk segera menaikkan suku bunga dari sisi domestik. Kenaikan suku bunga pada September dinilai berisiko menambah biaya pembiayaan tanpa manfaat sebanding bagi pengendalian inflasi. Investasi swasta juga belum optimal meski konsumsi rumah tangga, investasi pemerintah, dan ekspor nonmigas mulai membaik.

Intervensi Valas Dinilai Lebih Terarah

Josua menilai BI tidak perlu hanya mengandalkan instrumen suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi valuta asing, insentif biaya lindung nilai, pengembangan transaksi mata uang lokal, dan pendalaman pasar uang dinilai bisa menambah pasokan valuta asing dengan dampak lebih terarah ke perekonomian.

"Keberhasilan langkah tersebut harus dinilai dari aliran modal yang benar-benar bertahan, bukan sekadar penguatan rupiah dalam beberapa hari setelah pengumuman kebijakan," jelas Josua.

Bagi pelaku pasar, keputusan menahan suku bunga memberi ruang bagi obligasi negara tenor pendek dan menengah untuk tetap kompetitif, terutama di tengah imbal hasil surat utang AS yang masih tinggi. Sektor perbankan diperkirakan tetap mencatat pertumbuhan kredit dua digit, ditopang kredit investasi yang tumbuh jauh di atas rata-rata industri.

Follow www.poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks