BANDAR LAMPUNG — Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Muhammad Fareza Revanza, menegaskan bahwa kemunculan karhutla di wilayahnya hampir seluruhnya dipicu aktivitas manusia. “Vegetasi kering menjadi faktor pendukung sehingga api lebih mudah menyebar. Namun, pemicunya lebih banyak berasal dari aktivitas manusia,” katanya, Sabtu (25/7/2026).
Sepanjang Juli 2026, BPBD menerima empat laporan karhutla, naik signifikan dibanding Juni yang nihil. Seluruh kejadian masih berskala kecil dengan luas lahan terbakar di bawah satu hektar, sebagian besar hanya puluhan meter persegi.
Petugas pemadam berhasil mengendalikan api sebelum meluas.
Penyebab Utama: Pembakaran Sampah dan Puntung Rokok
Dari hasil penelusuran lapangan, Fareza mengidentifikasi dua pemicu utama karhutla di Lampung. Pertama, pembakaran sampah terbuka oleh warga di lahan kering. Kedua, puntung rokok yang dibuang sembarangan menyulut api pada ranting dan semak kering.
Kondisi cuaca mendukung, minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir membuat vegetasi mudah terbakar. Namun Fareza menekankan faktor manusia tetap penyebab langsung. “Kalau tidak ada sumber api, meskipun vegetasi kering, tidak akan terbakar,” ujarnya.
BPBD Alihkan Fokus ke Patroli Titik Panas
Memasuki kemarau, BPBD Provinsi Lampung mengalihkan sebagian personel dan peralatan dari penanganan banjir ke pemantauan titik panas (hotspot). Petugas di BPBD kabupaten dan kota diminta meningkatkan patroli di kawasan bervegetasi kering, termasuk lahan perkebunan dan kawasan hutan yang rawan kebakaran.
Langkah ini diambil karena ancaman banjir berkurang, sementara risiko karhutla meningkat. Fareza berharap masyarakat ikut waspada dan tidak melakukan pembakaran sembarangan, terutama di area dekat semak atau lahan kosong.