Pemprov Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi, Harga Pangan dan Stok Bahan Pokok Terpantau Aman

Penulis: Rian Murdani  •  Kamis, 05 Februari 2026 | 11:54:03 WIB
Pemprov Lampung intensif memantau harga pangan untuk pengendalian inflasi.

Lampung - Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat upaya pengendalian inflasi dengan memantau pergerakan harga pangan dan menjaga stabilitas pasokan. Hal ini ditegaskan melalui keikutsertaan Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan (Ekubang), Bani Ispriyanto, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025 yang dirangkaikan dengan evaluasi dukungan pemerintah daerah terhadap Program 3 Juta Rumah.

Rapat koordinasi tersebut digelar secara virtual dan dipusatkan di Ruang Command Center Lantai II Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Selasa (3/2/2026), serta dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.

Dalam arahannya, Mendagri menekankan bahwa stabilitas inflasi memiliki dampak luas terhadap kondisi ekonomi, sosial, hingga stabilitas politik dan keamanan nasional. Inflasi disebut sebagai indikator makroekonomi penting yang berpengaruh langsung terhadap daya beli dan biaya hidup masyarakat.

“Inflasi berkaitan erat dengan situasi ekonomi, politik, dan keamanan. Stabilitas harga barang dan jasa sangat menentukan kesejahteraan masyarakat,” ujar Mendagri.

Mendagri juga menyampaikan bahwa Presiden Republik Indonesia memberikan perhatian serius terhadap pengendalian inflasi nasional. Hal tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan rapat koordinasi pengendalian inflasi yang rutin digelar setiap pekan dengan melibatkan kementerian dan seluruh pemerintah daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi nasional secara year on year pada Desember tercatat sebesar 2,92 persen. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya dan mendekati batas psikologis 3 persen, meski masih berada di bawah ambang maksimal 3,5 persen.

“Jika inflasi menembus 3,5 persen, dampaknya akan sangat dirasakan, terutama oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Meski 3 persen masih relatif aman, kondisi ini tetap menjadi peringatan bagi kita semua,” tegasnya.

Kenaikan inflasi bulanan (month to month) yang meningkat dari 0,17 persen pada November menjadi 0,64 persen pada Desember terutama dipicu oleh kelompok komoditas makanan dan minuman, transportasi, serta perawatan pribadi, termasuk emas. Mendagri menyoroti tren kenaikan harga emas dunia yang dipengaruhi kondisi global dan meningkatnya permintaan dari negara-negara besar.

Selain faktor global, Mendagri juga mengungkapkan bahwa daerah dengan tingkat inflasi tertinggi umumnya terdampak bencana alam. Provinsi Aceh dan Sumatera Barat tercatat sebagai wilayah dengan lonjakan inflasi akibat banyaknya daerah yang terkena bencana.

Sementara itu, Provinsi Lampung mencatatkan kinerja positif dalam pengendalian inflasi. Berdasarkan rilis BPS pada 5 Januari 2025, Lampung menempati peringkat kedua inflasi terendah secara nasional dengan angka 1,25 persen, berada tepat di bawah Sulawesi Utara sebesar 1,23 persen.

Usai rapat, Staf Ahli Gubernur Lampung, Bani Ispriyanto, menyampaikan bahwa kondisi inflasi di Lampung hingga saat ini masih terjaga dengan baik dan berada dalam batas aman.

“Inflasi Lampung masih terkendali. Secara nasional memang terjadi kenaikan menjadi 2,92 persen, namun masih dalam rentang normal dan belum menyentuh angka 3 persen sebagaimana arahan Mendagri,” kata Bani.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah diminta terus waspada dan menjaga inflasi agar tidak melewati batas psikologis, mengingat dampaknya akan lebih terasa bagi masyarakat menengah ke bawah.

Terkait ketersediaan bahan pokok, Bani memastikan stok di Lampung masih aman. Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang perlu diantisipasi pergerakan harganya, seperti cabai, bawang merah, telur ayam, dan daging ayam.

“Harga masih relatif terkendali. Memang ada fluktuasi, tetapi belum mengkhawatirkan,” ujarnya.

Mengenai harga telur ayam ras yang di beberapa pasar mencapai Rp30.000 per kilogram, Bani menjelaskan bahwa angka tersebut masih sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan belum melampaui ketentuan yang berlaku.

Perbedaan harga di tingkat pasar, lanjutnya, dipengaruhi oleh faktor distribusi dan biaya transportasi, khususnya bagi pedagang kecil yang mengambil pasokan dari distributor dengan jarak cukup jauh.

Sementara itu, untuk sektor pakan ternak, Bani menyebutkan tidak ada kendala signifikan. Namun, harga jagung sebagai bahan baku pakan ternak masih terpantau tinggi di tingkat distributor dan pabrik, meskipun saat ini tengah memasuki masa panen raya.

“Kondisi ini sedang kami telusuri penyebabnya agar tidak berdampak pada harga komoditas peternakan ke depan,” pungkasnya.

Reporter: Rian Murdani
Back to top