ESTAMBUL — Pemerintah Turki menghidupkan kembali ambisi pembangunan kanal buatan raksasa untuk mengontrol rute perdagangan maritim antara Laut Hitam dan Mediterania. Proyek ini dirancang sebagai jalur alternatif berbayar guna menghindari batasan hukum internasional yang selama ini menggratiskan pelayaran di Selat Bosphorus.
ESTAMBUL — Krisis keamanan di Selat Hormuz yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu Ankara untuk mempercepat rencana pembangunan Kanal Istanbul. Proyek ini bukan sekadar upaya mengurai kepadatan lalu lintas kapal di Estambul, melainkan langkah strategis untuk mengubah jalur pelayaran alami yang gratis menjadi koridor ekonomi yang menghasilkan pendapatan negara.
Selama ini, Selat Bosphorus menjadi satu-satunya akses laut bagi negara-negara seperti Ukraina, Georgia, Bulgaria, hingga wilayah selatan Rusia. Namun, Turki terikat oleh Konvensi Montreux tahun 1936 yang menjamin transit bebas biaya bagi kapal komersial. Aturan internasional tersebut membatasi kemampuan Ankara untuk memungut biaya tol langsung, meskipun ribuan kapal tanker melewati jantung kota mereka setiap tahun.
Kanal Istanbul akan berstatus sebagai jalur air buatan, sehingga Turki memiliki dasar hukum untuk menerapkan tarif layanan dan biaya transit layaknya Terusan Suez atau Panama. Dengan memindahkan lalu lintas kapal tanker besar ke jalur baru ini, Ankara berambisi menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan pengaruh geopolitik terhadap perdagangan internasional.
Pemerintah Turki berargumen bahwa lalu lintas di Bosphorus saat ini sudah sangat membahayakan keselamatan warga Estambul. Risiko kecelakaan kapal tanker di tengah kota berpenduduk jutaan jiwa menjadi alasan utama untuk mendorong kapal-kapal bermuatan berbahaya beralih ke kanal buatan tersebut. Namun, di balik alasan keamanan, terdapat peluang besar untuk menjadikan infrastruktur ini sebagai alat penekan ekonomi dan politik global.
Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menjadikan Kanal Istanbul sebagai salah satu simbol politik utamanya. Proyek ini diproyeksikan memiliki panjang sekitar 45 kilometer yang akan membelah sisi Eropa Estambul, secara fisik mengubah wilayah tersebut menjadi sebuah pulau buatan raksasa yang diapit oleh Bosphorus dan kanal baru.
Rencana pembangunan ini mencakup pengembangan infrastruktur pendukung yang masif, antara lain:
Meskipun ambisius, proyek ini menghadapi tantangan besar terkait profitabilitas. Selat Bosphorus akan tetap ada sebagai jalur alternatif yang gratis, sehingga muncul pertanyaan besar apakah perusahaan pelayaran bersedia membayar jutaan dolar untuk melewati kanal buatan jika jalur alami tetap tersedia tanpa biaya.
Ankara berharap bahwa faktor keterlambatan navigasi dan kepadatan di Bosphorus akan memaksa perusahaan logistik memilih kanal berbayar demi efisiensi waktu. Namun, para ekonom memperingatkan bahwa keberhasilan finansial proyek ini sangat bergantung pada kondisi geopolitik global yang tidak menentu, serupa dengan situasi yang saat ini terjadi di Hormuz.
Selain masalah biaya yang diperkirakan mencapai 15 miliar hingga lebih dari 60 miliar dolar AS, para ilmuwan juga memperingatkan risiko ekologi yang fatal. Pembangunan ini diprediksi akan merusak sumber air tanah, hutan, dan ekosistem sensitif di utara Estambul. Ada pula kekhawatiran mengenai perubahan arus laut antara Laut Hitam dan Laut Marmara yang dapat mengganggu biodiversitas laut serta meningkatkan risiko kerentanan wilayah tersebut terhadap aktivitas seismik atau gempa bumi.