JAKARTA — Tekanan jual masih mendominasi di awal pekan. IHSG dibuka merosot signifikan, memperpanjang tren negatif yang terjadi pada akhir pekan lalu. Angka 6.584 merupakan level terendah dalam beberapa pekan terakhir.
Pada perdagangan preopening, indeks sebenarnya sudah menunjukkan sinyal merah dengan turun 94,344 poin (1,40 persen) di level 6.628,976. Namun, begitu perdagangan resmi dibuka, tekanan jual semakin deras.
Di pasar valuta asing, nasib serupa dialami rupiah. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 33 poin atau 0,19 persen ke level Rp 17.630 per dolar AS. Pelemahan ini menambah daftar panjang tekanan terhadap mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir.
Posisi Rp 17.630 merupakan level yang mendekati titik psikologis Rp 18.000 per dolar AS, level yang terakhir kali disentuh saat krisis 1998 dan pandemi 2020.
Pelemahan IHSG dan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia. Berikut kondisi bursa Asia pagi ini:
Hanya bursa China yang mencatatkan penguatan tipis. Sisanya kompak tertekan, menandakan sentimen risk-off masih kuat melanda kawasan Asia. Pasar masih mencerna sejumlah data ekonomi global dan kebijakan suku bunga bank sentral AS yang diperkirakan masih akan ketat.
Pelaku pasar kini menanti data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Angka tersebut akan menjadi acuan bagi langkah The Fed selanjutnya, yang secara langsung berdampak pada pergerakan rupiah dan IHSG. Belum ada pernyataan resmi dari otoritas pasar modal atau Bank Indonesia terkait pergerakan pagi ini.